Jakarta - Sebanyak sembilan pendidik
madrasah menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI Joko Widodo
(Jokowi). Pemberian penghargaan itu diberikan Presiden dalam kesempatan
peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di Istora Senayan,
Jakarta.
Mereka yang mendapat Satya Lencana adalah
Masyitoh (Guru RA Muadz bin Jabal 2 Bantul Yogyakarta), Elvi Rahmi (Guru MIN Gulai Bancah Bukittinggi Sumbar), Nur Hasanah Rahmawati
(Guru MTsN Maguwoharjo, Selman, Yogyakarta), dan Intan Irawati (MAN 15 Jakarta Timur). “Keempatnya adalah juara I pada
pemilihan guru teladan dan berprestasi tingkat nasional tahun 2014,” terang
Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan, Selasa (24/11).
Selain itu, Nur Syarifah (Kepala RA Khadijah
Muslimat NU Tabanan, Bali), Supriadi (Kapala MIN
Kendari, Sultra), Lewak Karma (Kepala MTsNAl Khoiriyah Buleleng, Bali), dan
Nurlela (Kepala MAN 12 Jakarta Barat, DKI
Jakarta). Mereka juga para juara I pada pemilihan kepala RA/Madrasah teladan
dan berprestasi tingkat nasional tahun 2014. “Nurlela saat ini bertugas sebagai
Kepala MAN 4 Pondok Pinang Jakarta Selatan,” kata M.
Nur Kholis.
“Satu orang yang juga mendapat Satya Lencana
adalah Mustain, Juara I Pengawas Madrasah yang sehari-hari bertugas di
Kankemenag Kabupaten Jepara,” tambahnya.
Menurut M. Nur Kholis, kesembilan guru ini memang
layak menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden pada perayaan HGN tahun ini yang mengambil tema “Guru Mulia Karena Karya”.
Mereka adalah para pendidik yang sudah mendedikasikan dirinya dalam pelaksanaan
tugas pendidikan secara baik dan professional. “Karya mereka adalah para
peserta didik yang baik, berprestasi, dan berakhlakul karimah,” tutur M. Nur
Kholis.
Puncak perayaan HGN di
Istora Senayan dihadiri oleh Presiden Jokowi dan sejumlah menteri Kabinet Kerja
seperti Mensesneg Pratikno, Menag Lukman Hakim Saifuddin, dan Mendikbud
Anis Baswedan.
Dalam peringatan yang dihadiri oleh 12.000 guru
lebih, Presiden menekankan pentingnya guru sebagai pembentuk karakter bangsa.
Guru, menurut Presiden adalah agen perubahan karakter bangsa. Perubahan
karakter bangsa bisa dimulai dari kelas-kelas dan sekolah-sekolah. “Sekolah
tidak hanya tempat menuntut ilmu pengetahuan melainkan arena pembelajaran
anak-anak kita dalam membentuk karakter mereka,” ucap Presiden.
Selain itu, Presiden
menegaskan bahwa guru bukan hanya sebuah pekerjaan, tapi guru menyiapkan
sebuah masa depan. Presiden meyakini karya guru-guru dapat melukis masa
depan Indonesia. Kualitas masa depan bangsa ini ditentukan oleh guru-guru hari
ini. Menurut Presiden, guru adalah teladan bagi generasi masa depan dan
pembelajar yang terus belajar. “Karena itu, guru bukan hanya sekedar pendidik
melainkan peletak dasar masa depan kita dan bangsa kita,” kata Presiden.
(humas/mkd)
